Minggu, 24 Februari 2013

Klasifikasi Leasing



Secara umum jenis-jenis leasing bisa dibedakan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut.

1. Capital Lease
 
Perusahaan leasing pada jenis ini berlaku sebagai suatu lembaga keuangan. Lessee yang akan membutuhkan suatu barang modal menentukan sendiri jenis serta spesifikasi dari barang yang dibutuhkan. Lessee juga mengadakan negoisasi langsung dengan supplier mengenai harga, syarat-syarat perawatan serta hal-hal lain yang berhubungan dengan pengoperasian barang tersebut.

Lessor akan mengeluarkan dananya untuk membayar barang tersebut kepada supplier dan kemudian barang tersebut diserahkan kepada lessee. Sebagai imbalan atas jasa pengguanaan barang tersebut lessee akan membayar secara berkala kepada lessor sejumlah uang yang berupa rental untuk jangka waktu tertentu yang telah disepakati bersama.

Jumlah rental ini secara keseluruhan akan meliputi harga barang yang dibayar oleh lessor ditambah faktor bunga serta keuntungan pihak lessor.
 
Selanjutnya capital atau finance lease masih bisa dibedakan menjadi dua yaitu:
 
a. Direct finance lease
 
Transaksi ini terjadi jika lessee sebelumnya belum pernah memiliki barang yang dijadikan objek lease. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa lessor membeli suatu barang atas permintaan lessee dan akan dipergunakan oleh lessee.

b. Sale and lease back
 
Sesuai dengan namanya, dalam transaksi ini lessee menjual barang yang telah dimilikinya kepada lessor. Atas barang yang sama ini kemudian dilakukan suatu kontrak leasing antara lessee dengan lessor. Dengan memperhatikan mekanisme ini, maka perjanjian ini memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan direct finance lease. Di sini lessee memerlukan cash yang bisa dipergunakan untuk tambahan modal kerja atau untuk kepentingan lainnya. Bisa dikatakan bahwa dengan sistem sale and lease back memungkinkan lessor memberikan dana untuk keperluan apa saja kepada kliennya dan tentu saja dana yang dibutuhkan sesuai dengan nilai objek barang lease.

2. Operating Lease
 
Pada operating lease, lessor membeli barang dan kemudian menyewakan kepada lessee untuk jangka waktu tertentu. Dalam praktik lessee membayar rental yang besarnya secara keseluruhan tidak meliputi harga barang serta biaya yang telah dikeluarkan oleh lessor.
Di dalam menentukan besarnya pembayaran lease, lessor tidak memperhitungkan biaya-biaya tersebut karena setelah masa lease berakhir diharapkan harga barang tersebut masih cukup tinggi. Di sini jelas tidak ditentukan adanya nilai sisa serta hak opsi bagi lessee.
 
3. Sales type lease (Lease Penjualan)
 
Lease penjualan biasanya dilakukan oleh perusahaan industri yang menjual lease barang hasil produksinya. Dalam kontrak penjualan lease diakui dua macam pendapatan yaitu pendapatan penjualan barang dan pendapatan bunga atas jasa pembelanjaan selama jangka waktu lease.
 
4. Leverage Lease
 
Pada leasing ini dilibatkan pihak ketiga yang disebut credit provider. Lessor tidak membiayai objek leasing hingga sebesar 100% dari harga barang melainkan hanya antara 20% hingga 40%. Kemudian sisa dari harga barang tersebut akan dibiayai oleh credit provider.

5. Cross Border Lease
 
Transaksi pada jenis ini merupakan suatu transaksi leasing yang dilakukan dengan melewati batas suatu negara. Dengan demikian antara lessor dan lessee terletak pada dua negara yang berbeda. Barang-barang atau peralatan yang ditransaksikan dalam cross border lease meliputi nilai jutaan dollar Amerika Serikat. Seperti Pesawat terbang bermesin jet dari Pabrikan Boeing dan Airbus.
 
Berikut ini adalah klasifikasi leasing oleh lessee.
 
(Tunggal, 1994: 27)
 
 
Istilah terkait leasing : unicredit leasing, audi leasing, vw leasing, mercedes leasing, toyota leasing, leasing a car, ford leasing, leasing bmw, car leasing, leasing auto, leasing cars, vehicle leasing
 
  

Penentuan Biaya Berdasarkan Pesanan dan Penentuan Biaya Berdasarkan Proses



Apakah perbedaan antara pabrikasi yang meliputi produksi masal dengan produksi yang dilakukan berdasarkan pesanan tertentu?
 
Saudara telah mempelajari akuntansi pabrikasi di mana digunakan pelaporan persediaan secara periodik. Menurut sistem tersebut, pada akhir suatu jangka waktu operasi, penghitungan persediaan secara fisik harus dilakukan atas bahan baku, persediaan dalam proses, dan persediaan barang jadi. Kemudian, juga pada akhir periode, dibuat kalkulasi biaya barang yang dihasilkan (laporan beban pokok produksi). Berikutnya, harga pokok barang yang dijual dihitung untuk pembuatan ikhtisar Laba Rugi. Metode periodik ini mempunyai satu kelemahan utama. Kelemahan tersebut adalah bahwa biaya pabrikasi tidak dapat dilaporkan dengan mudah selama jangka waktu operasi. Biaya ditentukan secara periodik (pada akhir periode), tidak dilakukan terus menerus, yang mungkin diperlukan untuk pengendalian sehari-hari.
 
Sistem perpetual untuk mengendalikan biaya pabrikasi lebih banyak dipakai daripada metode periodik karena pengendalian biaya sehari-hari dapat dilakukan dengan sistem perpetual. Ada dua sistem akuntansi biaya perpetual, yaitu sistem akuntansi job order dan sistem akuntansi biaya berdasarkan proses.
 
Sistem job order dirancang untuk mengawasi biaya perusahaan dalam menghasilkan atau mengerjakan masing-masing pekerjaan/ pesanan. Misalnya, sebuah cetakan berdasarkan pesanan mungkin akan menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Sebuah cetakan berdasarkan pesanan mungkin akan menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Sebuah perusahaan yang membuat perahu pesiar berdasarkan pesanan juga akan menggunakan sistem akuntansi biaya berdasarkan pesanan pekerjaan. Dalam sistem seperti itu catatan biaya tertentu dibuat untuk masing-masing pekerjaan. Catatan tersebut dengan demikian mengumpulkan informasi mengenai biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik untuk setiap pekerjaan. Harga jual pesanan dapat dibandingkan dengan total biaya pesanan tersebut; dan ketiga unsur biaya pesanan tersebut (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik) dapat dianalisa untuk keperluan pengawasan dan dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan harga pekerjaan yang sama dimasa datang.
 
Sistem akuntansi biaya berdasarkan proses dirancang untuk mengawasi biaya bagi perusahaan yang menghasilkan barang secara massal. Misalnya, industri pengolahan makanan dapat menghasilkan ribuah kaleng makanan dalam sehari. Tekanan pengawasan dalam pabrik ini bukanlah pada unit atau pekerjaan satu per satu (kaleng makanan) tapi tekanan diarahkan pada pengawasan proses operasi dalam pabrik. Sebuah pabrik yang menghasilkan komponen mobil secara massal, sebagai contoh, dapat dibagi menjadi empat departemen: departemen pemotongan, departemen trimming, departemen perakitan, dan departemen pengecatan. Dalam suatu sistem akuntansi biaya berdasarkan proses, catatan biaya dibuat menurut departemen (dan bukannya menurut masing-masing pesanan). Ketiga unsur biaya (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik) dapat dianalisa dan dikendalikan untuk setiap departemen.
 
Perbedaan secara umum, karakteristik Penentuan harga pokok pesanan dan proses, masing-masing metode tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut:

Metode Kalkulasi Harga Pokok (Cost Accumulation Method)

Biaya Pesanan (Job Order Costing)
Biaya Proses (Process Costing)
Harga Pokok
Biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan/kontrak/jasa secara terpisah dan setiap pesanan/kontrak/ jasa dapat dipisahkan identitasnya
Biaya dikumpulkan untuk setiap/satuan waktu tertentu
Dasar kegiatan
Pesanan langganan
Budged produksi/skedul produksi
Tujuan Produksi
Melayani pesanan
Persediaan yang akan dijual
Sifat produksi
Intermiten
Kontinyu
Bentuk produksi
Tergantung spesifikasi pemesan dan dapat dipisahkan identitasnya
Homogen/standar
Biaya produksi dikumpulkan
Setiap pesanan (sesuai dengan biaya yang dinikmati)
Setiap satuan waktu
Kapan biaya produksi dihitung
Pada saat pesanan selesai
Pada akhir periode/satuan waktu
Harga pokok dihitung dengan
Harga pokok pesanan tertentu dibagi Jumlah produk pesanan
Harga pokok pada persentase tertentu dibagi jumlah produk pada periode ybs.
Contoh
Percetakan, kontraktor me-bel, konsultan, kantor akuntan, karoseri dan lain-lain
Kertas, tekstil, botol, semen, air minum, petrokimia dll


Istilah terkait Penentuan Biaya : akuntansi biaya, biaya produksi, penentuan biaya produksi


Prosedur Akuntansi Biaya (Cost Accounting Procedure)



Aliran biaya dalam proses produksi (Flow of Manufacturing Cost)

1.  Pencatatan biaya pembelian bahan baku sebagai bahan untuk diproses lebih lanjut, dan disimpan di gudang sebagai persediaan bahan baku
2.  Pemrosesan/pengolahan bahan baku langsung dikombinasikan dengan upah langsung dan overhead pabrik sampai tahap di mana bahan baku tersebut menjadi barang dalam proses (Work in Process)
3.  Mengubah barang dalam proses menjadi barang jadi (Finished Goods) kemudian memindahkan Finished Goods ke gedung sebagai persediaan barang jadi yang akan dijual.
4.  Pemindahan Beban pokok penjualan (Cost of Goods Sold) dari Barang jadi.

Aliran biaya dalam proses produksi dapat ditunjukkan dalam bentuk akun T sebagaimana nampak pada ilustrasi berikut:



Istilah terkait Akunransi Biaya : akuntansi biaya produksi, akuntansi keuangan, biaya dalam akuntansi, biaya produksi, contoh akuntansi biaya, jurnal akuntansi, jurnal akuntansi biaya, pengertian akuntansi, pengertian akuntansi biaya, pengertian biaya, akuntansi manajemen, manajemen biaya, sistem akuntansi